Minggu, 20 Maret 2016

Toleransi Masyarakat Terhadap Kesenian Batik



Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan  telah menjadi budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Kesenian batik merupakan kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian kini berkembang menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
Perkembangan batik nusantara pun ditandai dengan munculnya bermacam-macam motif batik di daerah-daerah di Indonesia. Namun perbedaan motif-motif batik antar daerah sangat sulit dibedakan dan kebanyakan terdapat kemiripan motif batik daerah satu dengan daerah lainnya. Hal ini merupakan akibat adanya pemindahan budaya atau seni suatu daerah ke daerah lainnya, yang kemudian berbaur dan saling mengadaptasi.
Pembauran dan adaptasi ini berlangsung secara alami, karena ternyata pada dasarnya berbagai suku di Indonesia mempunyai jenis kebudayaan yang sama.
Pasca penetapan batik oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia, hal disambut antusias oleh masyarakat Indonesia. Menggenakan baju batik tidak hanya untuk acara-acara resmi saja, namun mulai digalakkan sebagai pakaian seragam anak sekolah, seragam pegawai instansi pemerintah ataupun swasta. Produk-produk kain batik pun mulai bermunculan dengan bermacam-macam jenis, misalnya jaket, sandal, tas, aksesoris. 

http://pusatgrosirsolo.com/wp-content/uploads/2014/02/berburu-aneka-produk-kreatif-berbahan-batik-2.jpg

Batik merupakan budaya yang telah lama berkembang dan dikenal oleh masyarakat Indonesia. Kata batik mempunyai beberapa pengertian. Menurut Hamzuri dalam bukunya yang berjudul Batik Klasik, pengertian batik merupakan suatu cara untuk memberi hiasan pada kain dengan cara menutupi bagian-bagian tertentu dengan menggunakan perintang. Zat perintang yang sering digunakan ialah lilin atau malam.kain yang sudah digambar dengan menggunakan malam kemudian diberi warna dengan cara pencelupan.setelah itu malam dihilangkan dengan cara merebus kain. Akhirnya dihasilkan sehelai kain yang disebut batik berupa beragam motif yang mempunyai sifat-sifat khusus.
Secara etimologi kata batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu”tik” yang berarti titik / matik (kata kerja, membuat titik) yang kemudian berkembang menjadi istilah ”batik” (Indonesia Indah ”batik”, 1997, 14). Di samping itu mempunyai pengertian yang berhubungan dengan membuat titik atau meneteskan malam pada kain mori. Menurut KRT.DR. HC. Kalinggo Hanggopuro (2002, 1-2) dalam buku Bathik sebagai Busana Tatanan dan Tuntunan menuliskan bahwa, para penulis terdahulu menggunakan istilah batik yang sebenarnya tidak ditulis dengan kata”Batik” akan tetapi seharusnya”Bathik”. Hal ini mengacu pada huruf Jawa ”tha” bukan ”ta” dan pemakaiaan bathik sebagai rangkaian dari titik adalah kurang tepat atau dikatakan salah. Berdasarkan etimologis tersebut sebenarnya batik identik dikaitkan dengan suatu teknik (proses) dari mulai penggambaran motif hingga pelorodan. Salah satu yang menjadi ciri khas dari batik adalah cara pengambaran motif pada kain ialah melalui proses pemalaman yaitu mengoreskan cairan lilin yang ditempatkan pada wadah yang bernama canting dan cap.



Sejarah kesenian Batik Pekalongan
batik pekalongan sesuai dengan namanya, merupakan salah satu jenis batik yang dibuat oleh masyarakat Pekalongan. Para Perajin batik Pekalongan mayoritas tinggal di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Hal tersebut membuat batik pekalongan juga biasa disebut dengan batik pesisir.
Sejarah batik Pekalongan mencatat bahwa terdapat faktor pengaruh kebudayaan dari masyarakat sekitar yang selalu berubah-ubah dan saling meniru pada awalnya sehingga menimbulkan kreativitas para perajin batik pekalongan untuk selalu membuat motif batik pekalongan baru, hal ini menurut hemat saya merupakan perkembangan dari batik sudagaran itu sendiri yang cenderung bebas dalam motifnya namun tetap mengacu pada pakem membatik. Batik pekalongan menjadi lebih berkembang setelah pengusaha batik belanda bernama Eliza Van Zuylen membangun workshop di wilayah tersebut. Berdasarkan arahan pengusaha tersebut maka motif batik pekalongan yang baru juga berhasil diciptakan oleh para perajin batik pekalongan yang khusus membuat motif batik pekalongan pekalongan terbaru untuk dijual kepada pengusaha batik tersebut. Eliza Van Zuylen juga merupakan salah satu orang yang memiliki peran besar atas kemunculan motif-motif baru dari batik Pekalongan. Melalui tangan pengusaha ini batik pekalongan mampu menembus pangsa pasar eropa dimana para pembeli batik van zuylen rata-rata para bangsawan eropa, juga mengunggah kepopuleran van zuylen sendiri di eropa dalam rentang waktu antara tahun 1923 hingga akhir tahun 1946. Pengusaha ini sangat terkenal dengan produk batiknya unggul akan kehalusan kain dengan motif batik tumbuh-tumbuhan hingga sampai dengan saat ini lebih dikenal sebagai ciri khas motif batik Pekalongan, di samping motif jlamprang. Batik Pekalongan memiliki keunggulan tersendiri jika dibandingkan dengan produk kain batik daerah lain yaitu dari segi pewarnaan yang cenderung lebih cerah dan atraktif.
Batik pekalongan yang berada di jawa tengan indonesia adalah batik yang secara khusus dibuat oleh warga kota pekalongan dan kabupaten pekalongan, pekerja serta pengrajin seni batik pekalongan bertempat tinggal di daerah pesisir pantau utara jawa maka dari itu batik disini sering terkenal dengan sebutan batik pesisi. Batik pekalongan Indonesia juga memilik warna-warna yang sangat atraktif dan rata-rata mempunyai ciri warna yang cerah.
Di area pulau jawa batik terbagi menjadi dua bagian secara umunya yakni yang pertama batik kraton dari daerah istimewa Yogyakarta dan dari kota solo dan yang kedua adalah batik pesisir yang terdapat di pantai jawa bagian utara. Untuk batik pesisir yang terbagi dalam pantai utara jawa (pantura) adalah kota pekalongan, Cirebon serta kota lasem. Pengaruh asing untuk daerah-daerah tersebut sangat lekat karena daerah tersebut sering kali menjumpai berbagai negara seperti belanda, negara china, india serta arab dan melayu bahkan para warga dari negara japan dan pada zaman itu ikut meramaikan serta mewarnai motif-motif bari serta penataan warna pada setiap kesenian batik pekalongan. Secara singkat jenis batik di pekalongan yang dipengaruhi oleh arab dan india adalah jenis batik jlamprang sedangkan untuk cina telah mempengaruhi corak batik encim serta klengenan. Dan yang lain lagi untuk negaara belanda memberikan pewarnaan khusus yang sangat mempengaruhi yang dikenal dengan jenis batik pagi sore sedangkan untuk batik hokokai jenis ini bertumbuh semenjak adanya pengaruh di zaman itu adanya warga negara jepang.
Selain dari pengaruh negara asing hal lain yang menyebabkan perkemabangan nilai batik  pekalongan di indonesia adalah pengaruh para keluarga kraton pada saat terjadi perpecahan pada lingkungan kerajaan mataram, dari peperangan melawan belanda serta diantara lingkungan kraton tersebut sering terjadi pada saat itu dan hal itu menimpulkan para keluarga raja kraton mengungsi dan tempat pelarian saat itu kota pekalongan adalah salah satu tempat yang menjadi tempat menetap serta pengungsian sementara. Dari tradisi para keluarga kraton yang memang memiliki tradisi membatik. Hal ini yang secara pertumbuhan ikut mengembangkan pengaruh batik di kota pekalongan dan sekitarnya. Meskipun tidak resmi catatan mengenai kapan batik pekalongan di indonesia ini mulai tumbuh dengan pasti, tetapi dari data di deperindg motif batik telah terbuat sejak tahun 1802.

DAFTAR PUSTAKA
Asa, Kusnin, Batik Pekalongan dalam Lintasan Sejarah, Batik Pekalongan on History, Cahaya Timur Offset Yogyakarta, 2006.
Kardi, Marsam, “Sejarah Perbatikan Indonesia”, Makalah Seminar Jejak Telusur dan Perkembangan Batik Pekalongan, Pekalongan, 18- 19 Maret 2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar