Sabtu, 02 April 2016

kebudayaan seni dan generasi



 perkembangan generasi batik
Batik telah ada sejak abad 17, tepatnya pada zaman Kerajaan Majapahit. Namun pada saat itu batik masih digambar pada sebuah daun lontar dan motifnya masih didominasi dengan motif binatang dan tanaman. Lambat laun dan motif binatang dan tanaman beralih menjadi motif abstrak seperti misalnya motif bentuk awan, relief pada candi, dan wayang beber. Perubahan motif tersebut juga dipengaruhi oleh budaya Islam hingga selanjutnya batik digabungkan dengan corak lukisan dan juga hiasan pada pakaian hingga dikenal sebagai batik tulis seperti saat ini.
Perkembangan selanjutnya, kerajinan batik ini menyebar hingga ke seluruh pulau Jawa, hingga masing-masing daerah memiliki corak dan motif yang khas sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing daerah. Menurut catatan sejarah, setelah zaman Majapahit kerajinan batik mulai dikembangkan lagi yakni pada masa kejayaan kerajaan Mataram kemudian dilanjutkan pada masa kerajaan Solo dan Yogyakarta.
Pada zaman kerajaan-kerajaan di tanah Jawa khususnya ketika batik diaplikasikan pada media kain hanya digunakan kalangan raja dan keluarga bangsawan. OIeh karena itu kain batik hanya diproduksi di dalam keraton sehingga masyarakat awam tidak diperkenankan memakainya kecuali para pengikut bangsawan dan raja. OIeh karena para pengikut raja dan bangsawan tinggal di luar tembok keraton, maka kerajinan batik ini mulai dapat diperkenalkan pada masyarakat awam oleh mereka.
Gambar 1 : http://pusatgrosirsolo.com
Pada zaman kerajaan tersebut, untuk pewarnaan kain batik masih menggunakan pewarna alami seperti dan tumbuh-tumbuhan; pohon mengkudu, tinggi, soga, dan nila. Sementara bahan soda dibuat dan abu serta campuran garam dan lumpur.
Pada tahun 1800-an Batik mulai menyebar di daerah barat Jawa, salah satunya adalah daerah Pekalongan yang kita kenal sebagai kota Batik seperti saat ini. Karena di Pekalongan ml terjadi perjumpaan beberapa bangsa seperti budaya Cina, Belanda, Arab, India, Melayu, dan terakhir Jepang, maka motif batik pun juga dipengaruhi dengan unsur-unsur dan budaya itu.
Dahulu para pengrajin batik adalah kaum wanita, dan kerajinan batik ini hanya sebagai pengisi waktu luang, sehingga batik masih diproduksi kalangan terbatas. Namun pada era modern saat ini, batik mulai dilirik sebagai industri yang juga merupakan aset budaya bangsa. Walau saat ini masih ada beberapa produksi batik tradisional yakni menggunakan teknik tulis dan cap, namun pembuatan batik secara modern juga cukup berkembang.
Desain batik akan lebih baik jika menggunakan program grafis vektor, hal ini menyangkut sebuah ukuran misalnya garis lurus, simetris, bahkan ketika membuat lengkungan untuk motif. Sedangkan pembuatan desain secara manual yakni dengan menggambar pada sebuah kain secara langsung akan menghasilkan grafis yang kurang sempurna, misalnya garis tidak selalu lurus, lengkungan tidak maksimal, motif dirasa kurang indah. 

Daftar Pustaka  
Tim Beranda Agency, 2009. Desain Kaus Batik Dengan CorelDRAW Jakarta : PT Elex Media Komputindo

Minggu, 27 Maret 2016

Seni Masyarakat Jawa dan Perempuan

  Kebaya Sebagai Busana Tradisional Perempuan

 



kebaya merupakan salah satu jenis busana yang dianggap paling ideal dengan konsep femininitas dalam citra keanggunan pecempuan Indonesia. Kebaya bahkan pernah dipilih sebagai kostum nasional oleh pemerintahan presiden Soekarno di tahun 1940- an. Waktu itu kebaya sebagai busana identitas bagi nilai tradisional yang menjadi bagian utama bagi kepibadian perempuan Indonesia.
            Kebaya juga pernah rnenjadi lambang emansipasi perempuan Indonesia melalui representasi yang menghubungkan kebaya dengan tokoh kebangkitan perempuan Indonesia, yaitu Raden Ajeng Kartini. Dalam setiap acara peringatan hari Kartini yang dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 21 April, para Siswi. remaja putri, dan ibu-ibu tampil khusus dengan mengenakan berbusana tradisional.Salah satu di antaranya adalah kebaya.
Dalam kehidupan saat ini, kebaya rnasih banyak dikenakan sebagai busana sehari-hari kaum ibu di berbagai wilayah pedesaan Jawa dan Bali Sedakan di wilayah perkotaan di Jawa, kebaya dikenakan sehari-hari oleh para ibu yang usianya menjelang senja. Namun, para perempuan kota yang berusia muda akan memakai kebaya sebagai busana formal pada setiap acara resmi. seperti pernikahan, berbagai resepsi atau acara sosial lainnya.
 
A. SEJARAH KEBAYA
Sejarah kebaya dimulai dan baju yang sering dipakai oleh wanita Melayu. Ada dua teori tentang asal baju kebaya. Satu mengatakan perkataan kebaya itu berasal dan perlataan Arab habaya yang artinya pakaian labuh yang memiliki belahan di depan. Satu lagi pendapat yang menganakan pakaian ini dibawa oleh orang Portugis ke Malaka maka kebaya telah lama dipakai di Malaka. Bukan oleh perempuan Melayu saja, tetapi juga dikenakan oleh perempuan Cina peranakan dengan sedikit perbedaan dalam potongan dan gaya memakainya. Kebaya perempuan Cina inilah yang di kemudian hari dikenai dengan kebaya encim.
Kata kebaya sendiri berasa dan kaba (bahasa Arab) yang berarti pakaian. Budayawan Perancis Denys Lombard, menuturkan bahwa munculnya istilah kebaya di Indonesia diperkenalkan oleh bangsa Portugis yang kebudayaannya mengalami perpaduan antara budaya Eropa dan Arab.
 http://serba-serbi-dunia-fashion.weebly.com/uploads/1/7/2/6/17264530/2384432.jpg

Penyebaran agama Islam di Indonesia diduga mempunyai pengaruh kuat pada perkembangan kebaya sebagai busana perempuan Indonesia, Sebelumnya perempuan Indonesia di daerah Jawa, Bali atau Sumatera, tampil sehani-hari mengenakan busana sejenis kemben tanpa atasan apa pun. Maka kebaya sederhana yang muncul pada saat itu (berupa kain lunik panjang) dianggap ideal sebagai baju atasan karena menutup bagian dada perempuan yang sebelumnya dibiarkan terbuka begitu saja.
 Baju kebaya memiliki peran penting bagi masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu, Salah satu contohnya adalah pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Saat itu penggunakan baju kebaya bahkan diterapkan menurut kelas sosial masyarakatnya. Keluarga keraton dan para bangsawan mengenakan kebaya yang terbuat dan bahan sutera, beludru, atau brokat.

http://images.weddingku.com/images/upload/articles/images/kebaya%2001a.jpg


Baju pada masa kemerdekaan Indonesia baju kebaya kembali meraih posisinya sebagai baju ideal perempuan kita. Pada masa ini, kebaya dianggap sebagai busana nasonal yang pantas dikenakan sesuai dengan kepribadian perempuan Indonesia Kebaya tidak saja menjadi baju sehari-hari, tetapi juga dikenakan pada berbagai acara seremonial dan berbaga’ acara sosial pemerintahan yang dianggap resmi.
Masyarakat di Jawa Tengah. khususnya di Surakarta (Solo) fungsi pakaian cukup beragam. Pada masyarakat bangsawan pakaian mempunyai fungsi praktis. estetis, religius. sosial, dan simbok. Seperti kain kebaya, fungsi praktisnya adalah untuk menjaga kehangatan dan kesehatan badan. Ada pun fungsi estetisnya adalah menghias tubuh agar kelihatan lebih cantik dan menarik. Fungsi sosial sendiri adalah belajar menjaga kehomatan diri seorang wanita agar tidak mudah menyerahkan kewanitaannya dengan cara berpakaian serapat dan serapi mungkin, serta memakai stogen yang kuat agar tidak mudah lepas.
 
http://lapakfjbku.com/wp-content/uploads/Bule-asil-telanjang-di-pantai13.jpg

Adapun tentang jenis busana dan kelengkapannya yang biasa dipakai oleh kalangan wanita jawa, terutama di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta adalah baju kebaya, kemben, dan kain tapih pinjung yang diikat dengan stogen. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa. baik sebagai busana sehari•hari maupun pakaian upacara.
Dewasa ini, baju kebaya pada umumnya hanya dipakai pada hari-hari tertentu saja, seperti pada upacara adat. Baju kebaya di sini adalah berupa blus berlengan panjang yang dipakai di luar kain panjang bercorak atau sarung yang menutupi bagian bawah dan badan (dan mata kaki sampai pinggang). Panjang kebaya bervaniasi, mulai dan yang berukuran di sekitan pinggul atas sampai dengan ukuran yang di atas lutut. Oleh karena itu, wanita Jawa mengenal dua macam kebaya, yaitu kebaya pendek (yang berukuran sampai pinggui) dan kebaya panjang (yang berukuran sampai ke lutut).

Daftar Pustaka  
Setiawan Ferry. 2009. 50 Galeri Kebaya Eksotik Nan Cantik. Jakarta: Penebarplus+.

Minggu, 20 Maret 2016

Toleransi Masyarakat Terhadap Kesenian Batik



Batik merupakan kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan  telah menjadi budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Kesenian batik merupakan kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana, kemudian kini berkembang menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
Perkembangan batik nusantara pun ditandai dengan munculnya bermacam-macam motif batik di daerah-daerah di Indonesia. Namun perbedaan motif-motif batik antar daerah sangat sulit dibedakan dan kebanyakan terdapat kemiripan motif batik daerah satu dengan daerah lainnya. Hal ini merupakan akibat adanya pemindahan budaya atau seni suatu daerah ke daerah lainnya, yang kemudian berbaur dan saling mengadaptasi.
Pembauran dan adaptasi ini berlangsung secara alami, karena ternyata pada dasarnya berbagai suku di Indonesia mempunyai jenis kebudayaan yang sama.
Pasca penetapan batik oleh UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia, hal disambut antusias oleh masyarakat Indonesia. Menggenakan baju batik tidak hanya untuk acara-acara resmi saja, namun mulai digalakkan sebagai pakaian seragam anak sekolah, seragam pegawai instansi pemerintah ataupun swasta. Produk-produk kain batik pun mulai bermunculan dengan bermacam-macam jenis, misalnya jaket, sandal, tas, aksesoris. 

http://pusatgrosirsolo.com/wp-content/uploads/2014/02/berburu-aneka-produk-kreatif-berbahan-batik-2.jpg

Batik merupakan budaya yang telah lama berkembang dan dikenal oleh masyarakat Indonesia. Kata batik mempunyai beberapa pengertian. Menurut Hamzuri dalam bukunya yang berjudul Batik Klasik, pengertian batik merupakan suatu cara untuk memberi hiasan pada kain dengan cara menutupi bagian-bagian tertentu dengan menggunakan perintang. Zat perintang yang sering digunakan ialah lilin atau malam.kain yang sudah digambar dengan menggunakan malam kemudian diberi warna dengan cara pencelupan.setelah itu malam dihilangkan dengan cara merebus kain. Akhirnya dihasilkan sehelai kain yang disebut batik berupa beragam motif yang mempunyai sifat-sifat khusus.
Secara etimologi kata batik berasal dari bahasa Jawa, yaitu”tik” yang berarti titik / matik (kata kerja, membuat titik) yang kemudian berkembang menjadi istilah ”batik” (Indonesia Indah ”batik”, 1997, 14). Di samping itu mempunyai pengertian yang berhubungan dengan membuat titik atau meneteskan malam pada kain mori. Menurut KRT.DR. HC. Kalinggo Hanggopuro (2002, 1-2) dalam buku Bathik sebagai Busana Tatanan dan Tuntunan menuliskan bahwa, para penulis terdahulu menggunakan istilah batik yang sebenarnya tidak ditulis dengan kata”Batik” akan tetapi seharusnya”Bathik”. Hal ini mengacu pada huruf Jawa ”tha” bukan ”ta” dan pemakaiaan bathik sebagai rangkaian dari titik adalah kurang tepat atau dikatakan salah. Berdasarkan etimologis tersebut sebenarnya batik identik dikaitkan dengan suatu teknik (proses) dari mulai penggambaran motif hingga pelorodan. Salah satu yang menjadi ciri khas dari batik adalah cara pengambaran motif pada kain ialah melalui proses pemalaman yaitu mengoreskan cairan lilin yang ditempatkan pada wadah yang bernama canting dan cap.



Sejarah kesenian Batik Pekalongan
batik pekalongan sesuai dengan namanya, merupakan salah satu jenis batik yang dibuat oleh masyarakat Pekalongan. Para Perajin batik Pekalongan mayoritas tinggal di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Hal tersebut membuat batik pekalongan juga biasa disebut dengan batik pesisir.
Sejarah batik Pekalongan mencatat bahwa terdapat faktor pengaruh kebudayaan dari masyarakat sekitar yang selalu berubah-ubah dan saling meniru pada awalnya sehingga menimbulkan kreativitas para perajin batik pekalongan untuk selalu membuat motif batik pekalongan baru, hal ini menurut hemat saya merupakan perkembangan dari batik sudagaran itu sendiri yang cenderung bebas dalam motifnya namun tetap mengacu pada pakem membatik. Batik pekalongan menjadi lebih berkembang setelah pengusaha batik belanda bernama Eliza Van Zuylen membangun workshop di wilayah tersebut. Berdasarkan arahan pengusaha tersebut maka motif batik pekalongan yang baru juga berhasil diciptakan oleh para perajin batik pekalongan yang khusus membuat motif batik pekalongan pekalongan terbaru untuk dijual kepada pengusaha batik tersebut. Eliza Van Zuylen juga merupakan salah satu orang yang memiliki peran besar atas kemunculan motif-motif baru dari batik Pekalongan. Melalui tangan pengusaha ini batik pekalongan mampu menembus pangsa pasar eropa dimana para pembeli batik van zuylen rata-rata para bangsawan eropa, juga mengunggah kepopuleran van zuylen sendiri di eropa dalam rentang waktu antara tahun 1923 hingga akhir tahun 1946. Pengusaha ini sangat terkenal dengan produk batiknya unggul akan kehalusan kain dengan motif batik tumbuh-tumbuhan hingga sampai dengan saat ini lebih dikenal sebagai ciri khas motif batik Pekalongan, di samping motif jlamprang. Batik Pekalongan memiliki keunggulan tersendiri jika dibandingkan dengan produk kain batik daerah lain yaitu dari segi pewarnaan yang cenderung lebih cerah dan atraktif.
Batik pekalongan yang berada di jawa tengan indonesia adalah batik yang secara khusus dibuat oleh warga kota pekalongan dan kabupaten pekalongan, pekerja serta pengrajin seni batik pekalongan bertempat tinggal di daerah pesisir pantau utara jawa maka dari itu batik disini sering terkenal dengan sebutan batik pesisi. Batik pekalongan Indonesia juga memilik warna-warna yang sangat atraktif dan rata-rata mempunyai ciri warna yang cerah.
Di area pulau jawa batik terbagi menjadi dua bagian secara umunya yakni yang pertama batik kraton dari daerah istimewa Yogyakarta dan dari kota solo dan yang kedua adalah batik pesisir yang terdapat di pantai jawa bagian utara. Untuk batik pesisir yang terbagi dalam pantai utara jawa (pantura) adalah kota pekalongan, Cirebon serta kota lasem. Pengaruh asing untuk daerah-daerah tersebut sangat lekat karena daerah tersebut sering kali menjumpai berbagai negara seperti belanda, negara china, india serta arab dan melayu bahkan para warga dari negara japan dan pada zaman itu ikut meramaikan serta mewarnai motif-motif bari serta penataan warna pada setiap kesenian batik pekalongan. Secara singkat jenis batik di pekalongan yang dipengaruhi oleh arab dan india adalah jenis batik jlamprang sedangkan untuk cina telah mempengaruhi corak batik encim serta klengenan. Dan yang lain lagi untuk negaara belanda memberikan pewarnaan khusus yang sangat mempengaruhi yang dikenal dengan jenis batik pagi sore sedangkan untuk batik hokokai jenis ini bertumbuh semenjak adanya pengaruh di zaman itu adanya warga negara jepang.
Selain dari pengaruh negara asing hal lain yang menyebabkan perkemabangan nilai batik  pekalongan di indonesia adalah pengaruh para keluarga kraton pada saat terjadi perpecahan pada lingkungan kerajaan mataram, dari peperangan melawan belanda serta diantara lingkungan kraton tersebut sering terjadi pada saat itu dan hal itu menimpulkan para keluarga raja kraton mengungsi dan tempat pelarian saat itu kota pekalongan adalah salah satu tempat yang menjadi tempat menetap serta pengungsian sementara. Dari tradisi para keluarga kraton yang memang memiliki tradisi membatik. Hal ini yang secara pertumbuhan ikut mengembangkan pengaruh batik di kota pekalongan dan sekitarnya. Meskipun tidak resmi catatan mengenai kapan batik pekalongan di indonesia ini mulai tumbuh dengan pasti, tetapi dari data di deperindg motif batik telah terbuat sejak tahun 1802.

DAFTAR PUSTAKA
Asa, Kusnin, Batik Pekalongan dalam Lintasan Sejarah, Batik Pekalongan on History, Cahaya Timur Offset Yogyakarta, 2006.
Kardi, Marsam, “Sejarah Perbatikan Indonesia”, Makalah Seminar Jejak Telusur dan Perkembangan Batik Pekalongan, Pekalongan, 18- 19 Maret 2005.

Senin, 29 September 2014

TUGAS DUA UJI KOMPETENSI DASAR I DINAMIKA KEBUDAYAAN INDONESIA


Pendahuluan
Kebudayaan klasik di Indonesia terjadi pada masa kerajaan-kerajaan di Indonesia. Dilihat dari aspek kebudayaan klasik, Indonesia bisa dibilang mengalami masa kejayaannya pada masa kerajaan majapahit. Seperti yang sudah kita pelajari tentang kerajaan majaapahit pada jaman dahulu,kerajaan majapahit adalah kerajaan terbesar di Indonesia yang berpusat di jawa timur pada masanya, yang Kekuasaannya terbentang di Jawa, Sumatra, Semenanjung Malaya, Kalimantan, hingga Indonesia timur.
Perubahan-perubahan dalam kebudayaan mencakup seluruh bagian kebudayaan, termasuk kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi, filsafat, bahkan dalam bentuk dan aturan-aturan organisasi sosial. Ruang lingkup perubahan kebudayaan lebih luas, sudah tentu ada unsur-unsur kebudayaan yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Namun demikian setiap perubahan kebudayaan tidak perlu harus mempengaruhi sistem sosial masyarakat yang sudah ada sebelumnya.

  • ·        Kebudayaan klasik dalam aspek sejarah
Pengaruh kebudayaan klasik terjadi pada masa perkembangan pengaruh Hindhu-Buddha di Indonesia berawal dari terjalinnya hubungan perdagangan antara India dan China melalui wilayah Indonesia. Sebelum budaya india masuk ke indoesia, kehidupan masyarakat di indonesia merupakan dusun –dusun. Masing-masing dusun dipimpin oleh kepala suku. Setelah budaya india masuk ke indonesia, terjadilah perubahan dalam dusun. Sejak itu berdirilah kerrajaan hindu-budha di Indonesia.

  • aspek arsitektur
            Arsitektur adalah cerminan kebudayaan. Arsitektur sebagai suatu karya kesenian hanya bisa tercapai dengan dukukungan masyarakat yang luas, berbeda dengan karya seni lukis atau seni patung misalnya yang bisa terlahir hanya dengan usaha satu seniman saja. Untuk melahirkan karya arsitektur diperlukan selain arsitek, juga ahli-ahli teknik lainnya, industri bahan, kelompok pelaksana, teknologi dan lain-lain. (ir.Heinz Frick 137-28).sementara itu, ketika makin banyak keberagaman etnografis yang ditemukan pada ciri arsitektur di Indonesia dan di negri-negri tetangga.
Contohnya wilayah India yang cukup banyak memberikan pengaruhnya terhadap Indonesia adalah India Selatan, kawasan yang didiami bangsa Dravida. Ini terbukti dari penemuan candi-candi di India yang hampir menyerupai candi-candi yang ada di Indonesia. Begitu pula jenis aksara yang banyak ditemui pada prasasti di Indonesia, adalah jenis huruf Pallawa yang digunakan oleh orangorang India selatan.

Meskipun budaya India berpengaruh besar, akan tetapi masyarakat Indonesia tidak serta-merta meniru begitu saja kebudayaan tersebut. Dengan kearifan lokal masyarakat Indonesia, budaya dari India diterima melalui proses penyaringan (filtrasi) yang natural. Bila dirasakan cocok maka elemen budaya tersebut akan diambil dan dipadukan dengan budaya setempat, dan bila tak cocok maka budaya itu dilepaskan. Proses akulturasi budaya ini dapat dilihat pada model arsitektur, misalnya, punden berundak (budaya asli Indonesia) pada Candi Sukuh di Jawa Tengah; atau pada dinding-dinding.

  • ·        Aspek Teknologi
   Perkembangan peradaban manusia diiringi dengan perkembangan cara penyampaian informasi (yang selanjutnya dikenal dengan istilah teknologi informasi), mulai dari gambar-gambar yang tak bermakna di dinding-dinding gua, peletakan tonggak sejarah dalam bentuk prasasti, sampai diperkenalkannya dunia arus informasi yang dikenal dengan nama internet.
Sebenarnya Teknologi informasi dan Komunikasi sudah dikenal oleh manusia sejak beratus-ratus abad lalu (hanya bedanya sekarang lebih keren,canggih dan efisien Sejak manusia diciptakan di muka bumi ini, manusia sudah mulai mencoba berkomunikasi dengan symbol-simbol dan isyarat. Mereka hanya mampu berkomunikasi dengan suara dengusan dan isyarat tangan sebagai bentuk awal komunikasi.

  • Dinamika Kebudayaan masyarakat
            Menurut Koentjaraningrat (1996: 142) semua konsep yang kita perlukan untuk menganalisa proses-proses pergeseran masyarakat dan kebudayaan disebut sebagai dinamika social. Beberapa konsep tersebut antara lain sebagai berikut. 
1. Proses belajar kebudayaan sendiri, yang terdiri dari internalisasi, sosialisasi, dan enkulturasi; 
2. Evolusi kebudayaan dan difusi; 
3. Proses pengenalan unsur-unsur kebudayaan asing, yang meliputi akulturasi dan asimilasi; 
4. Proses pembauran atau inovasi atau penemuan baru. 
Selanjutnya keempat konsep tersebut akan dibahas satu persatu di bawah ini. 
Internalisasi, Sosialisasi, dan Enkulturasi Proses Internalisasi Menurut Koentjaraningrat (1996: 142-143) proses internalisasi adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup individu, yaitu mulai dari ia dilahirkan sampai akhir hayatnya. Seorang individu terus belajar untuk mengolah segala perasaan, hasrat, nafsu, dan emosi yang kemudian membentuk kepribadiannya. Maka proses internalisasi yang dimaksud adalah proses panjang sejak seorang individu dilahirkan sampai ia hampir meninggal, dimana ia belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala hasrat, perasaan, nafsu, serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya. 

A. Proses sosialisasi 
Proses ini bersangkutan dengan proses belajar kebudayaan dalam hubungan dengan sistem social. Dalam proses itu seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar pola-pola tindakan dalam interaksi dengan segala macam individu di sekililingnya yag menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari. 
Proses sosialisasi dalam golongan sosial lainnya dalam lingkungan sosial dari berbagai suku bangsa didunia dapat menunjukkan proses sosialisasi yang berbeda, karena proses sosialisasi ditentukan oleh susunan kebudayaan dan lingkungan sosial yang bersangkutan.

B. Proses Enkulturasi 
            Menurut Koentjaraningrat (1996: 145-147) proses enkulturasi adalah proses belajar dan menyesuaikan alam pikiran serta sikap terhadap adaptasi, sistem norma, dan semua peraturan yang terdapat dalam kebudayaan seseorang. Proses ini telah dimulai sejak awal kehidupan, yaitu dalam lingkungan keluarga, dan kemudian dalam lingkungan yang semakin lama semakin meluas. Dalam proses ini seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat, sistem norma, serta peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Kata enkulturasi dalam bahas Indonesia juga berarti “pembudayaan”. Sorang individu dalam hidupnya juga sering meniru dan membudayakan berbagai macam tindakan setelah perasaan dan nilai budaya yang memberi motivasi akan tindakan meniru itu telah diinternalisasi dalam kepribadiannya. 


DAFTAR PUSTAKA

      Ferry T. Indratno, H. Purwanta, Ignaz kingkin Teja Angakasa, J. Sumardianta. 2003. Sejarah: Untuk kelas 2 SMA. Jakarta : PT. Grasindo
Pangarsa Galih Widjil.2006.Merah Putih Arsitektur Nusantara,Yogyakarta: Andi offset.
http://sumber-ilmu-islam.blogspot.com/2014/01/dinamika-kebudayaan-dan-masyarakat-a.html?m=1 
http://tikom2sobang.wordpress.com/topik/kelas-vii/sejarah-perkembangan-teknologi-informasi-dan-komunikasi/