Batik merupakan kerajinan yang
memiliki nilai seni tinggi dan telah
menjadi budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Kesenian batik merupakan
kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dulu. Awalnya batik dikerjakan
hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk pakaian raja dan keluarga
serta para pengikutnya. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga
istana, kemudian kini berkembang menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik
wanita maupun pria.
Perkembangan batik nusantara pun ditandai
dengan munculnya bermacam-macam motif batik di daerah-daerah di Indonesia.
Namun perbedaan motif-motif batik antar daerah sangat sulit dibedakan dan
kebanyakan terdapat kemiripan motif batik daerah satu dengan daerah lainnya.
Hal ini merupakan akibat adanya pemindahan budaya atau seni suatu daerah ke
daerah lainnya, yang kemudian berbaur dan saling mengadaptasi.
Pembauran dan adaptasi ini
berlangsung secara alami, karena ternyata pada dasarnya berbagai suku di
Indonesia mempunyai jenis kebudayaan yang sama.
Pasca penetapan batik oleh UNESCO
sebagai salah satu warisan budaya dunia yang berasal dari Indonesia, hal
disambut antusias oleh masyarakat Indonesia. Menggenakan baju batik tidak hanya
untuk acara-acara resmi saja, namun mulai digalakkan sebagai pakaian seragam
anak sekolah, seragam pegawai instansi pemerintah ataupun swasta. Produk-produk
kain batik pun mulai bermunculan dengan bermacam-macam jenis, misalnya jaket,
sandal, tas, aksesoris.
http://pusatgrosirsolo.com/wp-content/uploads/2014/02/berburu-aneka-produk-kreatif-berbahan-batik-2.jpg
Batik merupakan budaya yang telah lama berkembang dan
dikenal oleh masyarakat Indonesia. Kata batik mempunyai beberapa pengertian.
Menurut Hamzuri dalam bukunya yang berjudul Batik Klasik, pengertian batik
merupakan suatu cara untuk memberi hiasan pada kain dengan cara menutupi
bagian-bagian tertentu dengan menggunakan perintang. Zat perintang yang sering
digunakan ialah lilin atau malam.kain yang sudah digambar dengan menggunakan
malam kemudian diberi warna dengan cara pencelupan.setelah itu malam
dihilangkan dengan cara merebus kain. Akhirnya dihasilkan sehelai kain yang
disebut batik berupa beragam motif yang mempunyai sifat-sifat khusus.
Secara etimologi kata batik berasal dari bahasa Jawa,
yaitu”tik” yang berarti titik / matik (kata kerja, membuat titik) yang kemudian
berkembang menjadi istilah ”batik” (Indonesia Indah ”batik”, 1997, 14). Di
samping itu mempunyai pengertian yang berhubungan dengan membuat titik atau
meneteskan malam pada kain mori. Menurut KRT.DR. HC. Kalinggo Hanggopuro (2002,
1-2) dalam buku Bathik sebagai Busana Tatanan dan Tuntunan menuliskan bahwa,
para penulis terdahulu menggunakan istilah batik yang sebenarnya tidak ditulis
dengan kata”Batik” akan tetapi seharusnya”Bathik”. Hal ini mengacu pada huruf
Jawa ”tha” bukan ”ta” dan pemakaiaan bathik sebagai rangkaian dari titik adalah
kurang tepat atau dikatakan salah. Berdasarkan etimologis tersebut sebenarnya
batik identik dikaitkan dengan suatu teknik (proses) dari mulai penggambaran
motif hingga pelorodan. Salah satu yang menjadi ciri khas dari batik adalah
cara pengambaran motif pada kain ialah melalui proses pemalaman yaitu
mengoreskan cairan lilin yang ditempatkan pada wadah yang bernama canting dan
cap.
Sejarah
kesenian Batik Pekalongan
batik pekalongan sesuai dengan namanya, merupakan salah satu jenis batik yang dibuat oleh
masyarakat Pekalongan. Para Perajin batik Pekalongan mayoritas tinggal
di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Hal tersebut membuat batik pekalongan juga
biasa disebut dengan batik pesisir.
Sejarah batik Pekalongan mencatat bahwa terdapat faktor
pengaruh kebudayaan dari masyarakat sekitar yang selalu berubah-ubah dan saling
meniru pada awalnya sehingga menimbulkan kreativitas para perajin batik
pekalongan untuk selalu membuat motif batik pekalongan baru, hal ini menurut
hemat saya merupakan perkembangan dari batik sudagaran itu sendiri yang
cenderung bebas dalam motifnya namun tetap mengacu pada pakem membatik. Batik
pekalongan menjadi lebih berkembang setelah pengusaha batik belanda bernama
Eliza Van Zuylen membangun workshop di wilayah tersebut. Berdasarkan arahan
pengusaha tersebut maka motif batik pekalongan yang baru juga berhasil
diciptakan oleh para perajin batik pekalongan yang khusus membuat motif batik pekalongan pekalongan terbaru untuk dijual
kepada pengusaha batik tersebut. Eliza Van Zuylen juga merupakan salah satu
orang yang memiliki peran besar atas kemunculan motif-motif baru dari batik
Pekalongan. Melalui tangan pengusaha ini batik pekalongan mampu menembus pangsa
pasar eropa dimana para pembeli batik van zuylen rata-rata para bangsawan
eropa, juga mengunggah kepopuleran van zuylen sendiri di eropa dalam rentang
waktu antara tahun 1923 hingga akhir tahun 1946. Pengusaha ini sangat terkenal
dengan produk batiknya unggul akan kehalusan kain dengan motif batik
tumbuh-tumbuhan hingga sampai dengan saat ini lebih dikenal sebagai ciri khas motif
batik Pekalongan, di samping motif jlamprang. Batik Pekalongan memiliki
keunggulan tersendiri jika dibandingkan dengan produk kain batik daerah lain
yaitu dari segi pewarnaan yang cenderung lebih cerah dan atraktif.
Batik
pekalongan yang berada di jawa tengan indonesia adalah batik yang secara khusus
dibuat oleh warga kota pekalongan dan kabupaten pekalongan, pekerja serta
pengrajin seni batik pekalongan bertempat tinggal di daerah pesisir pantau
utara jawa maka dari itu batik disini sering terkenal dengan sebutan batik
pesisi. Batik pekalongan Indonesia juga memilik warna-warna yang sangat atraktif
dan rata-rata mempunyai ciri warna yang cerah.
Di area pulau
jawa batik terbagi menjadi dua bagian secara umunya yakni yang pertama batik
kraton dari daerah istimewa Yogyakarta dan dari kota solo dan yang kedua adalah
batik pesisir yang terdapat di pantai jawa bagian utara. Untuk batik pesisir
yang terbagi dalam pantai utara jawa (pantura) adalah kota pekalongan, Cirebon
serta kota lasem. Pengaruh asing untuk daerah-daerah tersebut sangat lekat
karena daerah tersebut sering kali menjumpai berbagai negara seperti belanda,
negara china, india serta arab dan melayu bahkan para warga dari negara japan
dan pada zaman itu ikut meramaikan serta mewarnai motif-motif bari serta
penataan warna pada setiap kesenian batik pekalongan. Secara singkat jenis
batik di pekalongan yang dipengaruhi oleh arab dan india adalah jenis batik
jlamprang sedangkan untuk cina telah mempengaruhi corak batik encim serta
klengenan. Dan yang lain lagi untuk negaara belanda memberikan pewarnaan khusus
yang sangat mempengaruhi yang dikenal dengan jenis batik pagi sore sedangkan
untuk batik hokokai jenis ini bertumbuh semenjak adanya pengaruh di zaman itu
adanya warga negara jepang.
Selain dari
pengaruh negara asing hal lain yang menyebabkan perkemabangan nilai batik pekalongan di indonesia adalah pengaruh para keluarga
kraton pada saat terjadi perpecahan pada lingkungan kerajaan mataram, dari
peperangan melawan belanda serta diantara lingkungan kraton tersebut sering
terjadi pada saat itu dan hal itu menimpulkan para keluarga raja kraton
mengungsi dan tempat pelarian saat itu kota pekalongan adalah salah satu tempat
yang menjadi tempat menetap serta pengungsian sementara. Dari tradisi para keluarga
kraton yang memang memiliki tradisi membatik. Hal ini yang secara pertumbuhan
ikut mengembangkan pengaruh batik di kota pekalongan dan sekitarnya. Meskipun
tidak resmi catatan mengenai kapan batik pekalongan di indonesia ini mulai
tumbuh dengan pasti, tetapi dari data di deperindg motif batik telah terbuat
sejak tahun 1802.
DAFTAR PUSTAKA
Asa,
Kusnin, Batik
Pekalongan dalam Lintasan Sejarah, Batik Pekalongan on
History, Cahaya Timur Offset Yogyakarta, 2006.
Kardi,
Marsam, “Sejarah Perbatikan Indonesia”, Makalah Seminar Jejak Telusur dan
Perkembangan Batik Pekalongan, Pekalongan, 18- 19 Maret 2005.